Senin, 31 Oktober 2016

cerita singkat beliau Syeikh Izzuddin ibn Abdus Salam

       N“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imron: 104)
Begitulah bunyi petikan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, yang menjelaskan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar bagi umat Islam. Dan Syaikh Izzuddin ibn Abdus Salam merupakan salah satu ulama’ yang teguh dalam menjalankan perintah tersebut. Selain terkenal dengan kefaqihannya, beliau juga dikenal dengan ketegasannya dalam berfatwa dan mengamalkan syariat Islam. Berikut beberapa petikan tentang biografi beliau.
Raja para ulama' ini bernama lengkap Izzuddin Abdul Aziz bin Abdus Salam. Dia dilahirkan tahun 577 H.
Sebagai alimnya para ulama' ia belajar fikih pada al-Fakhr Ibn Asakir, mengaji ushul pada Saif al-Idziy, menerima pelajaran hadits dari Umar bin Tobarzed. Beliau mempunyai pengetahuan yangmenjawab, "Alangkah kasihannya dia, saya tidak rela dia mencium tanganku apalagi saya mencium tangannya. Wahai kaum, kamu ada di satu jurang dan saya di jurang yang lain, puji bagi Allah yang telah membebaskan kita dari cobaan yang ditimpakan kepada kalian.”
Syekh Izzuddin dan kiprahnya di Mesir
Sesampainya di Mesir, Syekh Izzuddin dan Ibn Hajib disambut oleh raja Najmuddin bin Ayyub. Beliau menyambut dengan penuh kemuliaan dan mengangkatnya sebagai Qadli Mesir. Belum beberapa lama beliau sudah berselisih dengan para pembesar dan penguasa Mesir. Akan tetapi beliau tidak tunduk dan tidak takut komentar jelek dalam hal kebenaran.Suatu ketika seorang pegawai istana yang bernama Fakhruddin Utsman ingin mendirikan tempat hiburan musik di belakang salah satu masjid di Kairo. Setelah tempat hiburan itu berdiri rupanya penduduk sekitar tidak senang dengan suara genderang apalagi berseberangan dengan masjid. Ketika permasalahan ini sampai ke Syaikh Izzuddin, beliau memberi putusan untuk menghancurkan bangunan tempat hiburan tadi dan menghukum Fakhruddin (dengan kefasikannya).
Fakhruddin dan yang lainnya menyangka bahwa keputusan Syaikh Izzuddin tidak ada dampaknya di luar Mesir. Suatu ketika Raja Najmuddin mengutus utusan untuk menghadap Khalifah Abbassiyah Mu'tashim di Baghdad. Ketikapergunakan untuk kemaslahatan muslimin”. Dia bertanya lagi: “Siapa yang akan menerima uangnya?”. Beliau menjawab: “Saya”. Dengan begitu sempurnalah apa yang diharapkan oleh beliau. Beliau memanggil para pangeran satu persatu dan menghargainya dengan sangat mahal lalu menerima uang jual belinya dan dipergunakan dalam kebaikan.Ketegasan Syekh Izzuddin bukan hanya dalam menjatuhkan putusan. Beliau juga berani bersikap tegas dalam mencabut putusan yang dianggap salah, meskipun itu dari dirinya sendiri. Suatu ketika Syekh Izzuddin bin Abdissalam berfatwa. Setelah menimbang-nimbang ia merasa ada kesalahan dalam fatwanya itu. Maka ia berkeliling ke seantero Mesir dan mengatakan: "Barangsiapa yang diberikan fatwa oleh Ibnu Abdissalam dalam masalah ini maka jangan dilakukan karena fatwa itu salah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar