N“Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imron: 104)
Begitulah bunyi petikan firman Allah SWT
dalam Al-Qur’an, yang menjelaskan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar bagi
umat Islam. Dan Syaikh Izzuddin ibn Abdus Salam merupakan salah satu ulama’
yang teguh dalam menjalankan perintah tersebut. Selain terkenal dengan
kefaqihannya, beliau juga dikenal dengan ketegasannya dalam berfatwa dan
mengamalkan syariat Islam. Berikut beberapa petikan tentang biografi beliau.
Raja
para ulama' ini bernama lengkap Izzuddin Abdul Aziz bin Abdus Salam. Dia
dilahirkan tahun 577 H.
Sebagai
alimnya para ulama' ia belajar fikih pada al-Fakhr Ibn Asakir, mengaji ushul
pada Saif al-Idziy, menerima pelajaran hadits dari Umar bin Tobarzed. Beliau
mempunyai pengetahuan yangmenjawab, "Alangkah kasihannya dia, saya tidak
rela dia mencium tanganku apalagi saya mencium tangannya. Wahai kaum, kamu ada
di satu jurang dan saya di jurang yang lain, puji bagi Allah yang telah
membebaskan kita dari cobaan yang ditimpakan kepada kalian.”
Syekh Izzuddin
dan kiprahnya di Mesir
Sesampainya
di Mesir, Syekh Izzuddin dan Ibn Hajib disambut oleh raja Najmuddin bin Ayyub.
Beliau menyambut dengan penuh kemuliaan dan mengangkatnya sebagai Qadli Mesir.
Belum beberapa lama beliau sudah berselisih dengan para pembesar dan penguasa
Mesir. Akan tetapi beliau tidak tunduk dan tidak takut komentar jelek dalam hal
kebenaran.Suatu ketika seorang pegawai istana yang bernama Fakhruddin Utsman
ingin mendirikan tempat hiburan musik di belakang salah satu masjid di Kairo.
Setelah tempat hiburan itu berdiri rupanya penduduk sekitar tidak senang dengan
suara genderang apalagi berseberangan dengan masjid. Ketika permasalahan ini
sampai ke Syaikh Izzuddin, beliau memberi putusan untuk menghancurkan bangunan
tempat hiburan tadi dan menghukum Fakhruddin (dengan kefasikannya).
Fakhruddin
dan yang lainnya menyangka bahwa keputusan Syaikh Izzuddin tidak ada dampaknya
di luar Mesir. Suatu ketika Raja Najmuddin mengutus utusan untuk menghadap
Khalifah Abbassiyah Mu'tashim di Baghdad. Ketikapergunakan untuk kemaslahatan
muslimin”. Dia bertanya lagi: “Siapa yang akan menerima uangnya?”. Beliau
menjawab: “Saya”. Dengan begitu sempurnalah apa yang diharapkan oleh beliau.
Beliau memanggil para pangeran satu persatu dan menghargainya dengan sangat
mahal lalu menerima uang jual belinya dan dipergunakan dalam kebaikan.Ketegasan
Syekh Izzuddin bukan hanya dalam menjatuhkan putusan. Beliau juga berani
bersikap tegas dalam mencabut putusan yang dianggap salah, meskipun itu dari
dirinya sendiri. Suatu ketika Syekh Izzuddin bin Abdissalam berfatwa. Setelah
menimbang-nimbang ia merasa ada kesalahan dalam fatwanya itu. Maka ia
berkeliling ke seantero Mesir dan mengatakan: "Barangsiapa yang diberikan
fatwa oleh Ibnu Abdissalam dalam masalah ini maka jangan dilakukan karena fatwa
itu salah.”